DASAR-DASAR ORGANISASI DAN INFORMASI
Nama: Mishbahul Khairiyah
Nim: 0601183143
Ilmu Perpustakaan 1 / semester 1
UNIVERSITAS NEGERI SUMATERA UTARA
Bab 1 Dokumen semi publik dan publik
A.
Dokumen
publik
Dokumen publik itu berisi informasi
yang isinya dapat disebarluaskan secara umum dan bebas, dokumen biasanya
tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan dalam bentuk buku-buku atau terbitan
lainnya dan pustakawanlah yang bertugas mengumpulkan, menyimpan dan mengelola.
Contoh-contoh dokumen publik :
1.
Buku
2.
Majalah
3.
Koran
4.
Rekaman
5.
Gambar
Fungsi dokumen publik :
a.
Sebagai
sarana penyedia informasi bagi masyarakat luas.
b.
Sebagai
sarana pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
c.
Untuk
memajukan pikiran masyarakat.
d.
Bisa
menjadi saran hiburan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
e.
Bisa
dimanfaatkan secara bebas.
Prinsip-prinsip pengelolaan dokumen publik :
a.
Membuat
identifikasi informasi dimulai dari registerasi :
1.
Mecatat
semua koleksi dalam buku induk dan identifikasi koleksi, sehingga semua koleksi
diketahui jumlahny, dengan catat rapi dan jelas.
2.
Meberikan
identitas agar semua koleksi memiliki ciri atau tanda sebagai bukti milik
perpustakaan, dengan cara membubuhkan stempel pada halaman tertentu.
b.
Katalogisasi
membuat katalog setiap koleksi dengan memuat deskripsi atas fisik buku/bahan
pustakasecara lengkap mencakup pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, jumlah
halaman, kolasi, ilustrasi dan lainnya.
c.
Klasifikasi
adalah mengelompokkan koleksi menurut kelas / klompok tertentu. Hasil
klasifikasi adalah penentuan nomor kelas dan kelompok koleksi informasi menurut
isi dan subyek. Pedoman standard untuk klasifikasi yaitu menggunakan pedoman DDC
(deway decimal clasification), UDC (universal decimal clasification), Tajuk
Subyek.
d.
Kelengkapan
koleksi antara lain label, kartu, kantong buku, slip buku, slip tanggal, kartu
katalog sesuai dengan kebutuhandan kebijakan perpustakaan.
e.
Penyusunan
koleksi, penyusunan dengan dua cara yaitu: pertama, penempatan tetap buku (atau buku yang sudah
ditempatkan tidak akan berubah koleksinya. Kedua, adalah penempatan
realtif (buuku bisa digeser sesuai
dengan kebutuhan tertentu).
f.
Pengelolahan
dengan komputer, kegiatan yang haus dilakukan adalah pemasukan data,pembuatan
lembar kerja dan pembuatan code. Namun ada bebrapa kegiatan yang harus tetap
dilakukan yaitu: registrasi, katalogisasi dan klasifikasi.
B.
Dukumen
semi publik
Dokumen semi publik adalah dokumen yang dipakai untuk kegiatan
sehari-hari suatu organisasi. Dokumen
ini tidak disebarluaskan secara bebas. Tetapi hanya orang-orang tertentu yang
dapat mengetahuinya, seperti orang yang berada dalam sebuah organisasi atau
dokumen ini dapat di publikasikan secara terbatas.
1.
Contoh-contoh
dukumen semi publik :
a.
Rekod
adalah dokumen yang dibuat oleh badan korporasi, keluarga, perorangan dalam
menjalankan fungsi dan aktivitasnya.
Penyimpanan
atau perekaman rekod dapat disimpan dalam bentuk data, dokumen, atau
elektronik. Rekod dapat disebut juga dengan arsip dinamis.
b.
Arsip,
berdasarkan UU nomor 43 Tahun 2009 tentang kearsipan, pasal 1 ayat 2,
menyatakan arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk
media dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan
diterima oleh lembaga negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi
politik, kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan berbangsa
dan bernegara.
c.
Fungsi
arsip menurut Pasal 2 Undang-Undang No. 7 tahun 1971 dibedakan menjadi 2 (dua)
yaitu:
1)
Arsip
dinamis adalah arsip yang diperlukan secara langsung dalam perencanaan, penyelenggaraan
kehidupan kebangsaan pada umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam
penyelenggaraan administrasi negara (arsip yang masih dipergunakan secara
langsung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari).
Arsip dinamis
menurut fungsi dan kegunaannya dibedakan menjadi :
a)
Arsip
aktif adalah arsip-arsip yang masih dipergunakan bagi kelangsungan kerja.
b)
Arsip
semi aktif adalah arsip-arsip yang frekuensi penggunaannya sudah mulai menurun
dalam masa transisi antara arsip aktif dan inaktif.
c)
Arsip
inaktif atau arsip semi statis adalah arsip-arsip yang jarang sekali
dipergunakan dalamproses pekerjaan sehari-hari.
2)
Arsip
statis adalah arsipyang tidak dipergunakan secara langsung untuk perencanaan,
penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya maupun untuk penyelenggaraan
sehari-hari administrasi negara (dipergunakan secara langsung dalam kegiatan
perkantoran sehari-hari).
Fungsi dokumen semi publik :
a.
Direkam
dan dipublikasikan secara terbatas.
b.
Bermanfaat
bagi kelompok atau organisasi tertentu.
c.
Berisi
informasi yang berkaitan dengan organisasi atau menunjang kegiatan, sehingga
dapat disimpan sebagai bukti aktivitas.
d.
Tidak
boleh dipakai oleh orang luar tetapi bisa dipakai jika mendapatkan izin.
Prinsip-prinsip pengelolaan dokumen semi publik :
Menurut Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 28 Tahun 2012
tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan pasal
29 yaitu:
a.
Pengelolaan
arsip sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) huruf c terdiri atas:
1.
Pengelolaan
arsip dinamis; dan
2.
Pengelolaan
arsip statis.
b.
Pengelolaan
arsip dinamis dilakukan terhadap arsip vital, arsip aktif, dan arsip inaktif.
c.
Pengelolaan
arsip dinamis menjadi tanggungjawab pencipta arsip.
d.
Pengelolaan
arsip statis menjadi tanggungjawab lembaga kearsipan.
e.
Pelaksanaan
pengelolaan arsip sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan oleh arsip
arsiparis.
BAB II LEMBAGA PENGELOLA DOKUMEN PUBLIK DAN SEMI PUBLIK
A.
Lembaga
pengelola dokumen publik dan semi publik
Dokumen berasal dari bahasa latin
yaitu dorace, yang berarti mengajar. Pengertian dokumen menurut luis Gottschalk
(1986 : 38) serig kali digunakan para ahli dalam dua pengertian, yang pertama
berarti sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebalikan dari pada
kesaksian lisan, artefa, peninggalan-peninggalan tertulis, dan artiologis.
Kedua, yaitu di peruntukkan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara
seperti surat perjanjian, undang-undang, konsesi, dll.
Jadi,
kesimpulannya dokumen adalah
surat-surat atau benda-benda yang
berharga, termasul rekaman yang dapat dijadikan sebagai alat bukti untuk
mendukung supaya lebih baik meyakinkan.
1. Contoh lembaga pengolah dokumen public dan semi public
Berikut beberapa contoh lembaga pengelolah
dokumen public dan semi public.
a.
Pustakawan
Mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola,
menyebarluaskan dokumen berisi pengetahuan publik. Di Indonesia profesi
ini mulai dikenal publik sejak tahun 1988 dengan dikeluarkannya SK Menpan
No.18/1988 yuncto SEB Menteri P dan K dan Kepala BAKN No.53649/MPK/1988,
No.15/SE/1988 tentang Angka Kredit bagi jabatan Pustakawan. Kenaikan pangkat,
tunjangan fungsional, tim penilai, sudah lebih jelas dibandingkan dengan
profesi arsiparis, dokumentalis dan infomasi.Standar profesi ini memerlukan
pendidikan minimal D3 Ilmu Perpustakaan.
b.
Records manajer
Mengumpulkan,
menyimpan dan mengelola dokumen (record) berisi pengetahuan semi publik
yang tidak lagi diperlukan dalam kegiatan sehari-hari suatu lembaga/organisasi.
c.
Arsiparis
Mengumpulkan,
menyimpan, dan mengelola dokumen berisi pengetahuan semi publik yang tidak lagi
diperlukan untuk kegiatan sehari-hari badan usaha, lembaga,
organisasi, tapi perlu dilestarikan sebab nilai historisnya.
Arsiparis adalah seseorang yang memilikikompetensi di bidang kearsipan yang diperolehmelalui pendidikan formal dan/atau pendidikan
dan pelatihan kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan. (UU 43/09)
Profesi
arsiparis sebenarnya sudah dijamin oleh UU No.7/1971 tentang Pokok-pokok
Kearsipan. Dalam pasal 6 dan 7 dikatakan bahwa pemerintah berkewajiban mengadakan,
mengatur dan mengawasi pendidikan kader ahli kearsipan, Pemerintah mengatur
kedudukan hukum dan kewenangan tenaga ahli kearsipan, dan melakukan usaha-usaha
untuk menjamin tenaga ahli kearsipan sesuai dengan fungsi serta tugas dalam
lingkungannya.
d.
Dokumentalis
Di Eropa Barat,
pengolahan artikel majalah ilmiah dilakukan tenaga ilmuwan yang secara tegas
menyebut dirinya sebagai dokumentalis, bukan pustakawan, Tugas seorang
dokumentalis adalah mengolah majalah beserta isinya, mengembangkan system temu
kembali serta menyebarkan isinya. Sedangkan di Amerika Serikat pengolahan
majalah ilmiah dilakukan oleh pustakawan yang bekerja pada perpustakaan
khusus.Oleh karenanya pengertian dokumentalis identik dengan pustakawan
khusus. Profesi dokumentalis di Indonesia tidqk dikenal walau sebenarnya
sudah menjalankan pekerjaannya yaitu menghimpun, mengolah, menyimpan, dan
mendistribusikan dokumentasi.[2]
e.
Ilmuwan informasi
Mengembangkan
kajian Ilmu Perpustakaan dan Informasi.Mayoritas dari mereka adalah akademisi
yang ada di perguruan tinggi, yang tertarik dalam bidang informasi.
B.
Organisasi Dokumentasi
1.
Lembaga Kearsipan
“Lembaga Kearsipan adalah
lembaga yang memiliki fungsi, tugas, dan tanggung jawab di bidangpengelolaan
arsip statis dan pembinaan kearsipan.” (Pasal
1 Angka 12 UU Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan).
2. Lembaga
Dokumentasi Informasi
3. Perpustakaan
perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, serta dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, serta dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
4. Museum
Museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan
publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian,
mengkonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk
kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan.
C.
Lembaga Kearsipan
Organisasi kearsipan terdiri atas unit kearsipanpada pencipta arsip dan lembaga kearsipan.
1.
ANRI
2.
arsip daerah provinsi
3.
arsip daerah kabupaten/kota; dan
4.
arsip perguruan tinggi
D.
Lembaga Dokumentasi
1 . Pejabat
Pengelola Dokumentasi dan Informasi Lembaga Negara
2. Pejabat
Pengelola Dokumentasi dan Informasi Kementerian
3. Pejabat
Pengelola Dokumentasi dan Informasi LPNK
4. Pejabat
Pengelola Dokumentasi dan Informasi Provinsi
5.
Pejabat Pengelola Dokumentasi dan Informasi
Kabupaten/Kota
E.
Perbedaan perpustakaan - rekod-arsip
1.
Perpustakaan
a.
Kumpulan buku materi perpustakaan lainnya yang
disimpan untuk keperluan bacaan, belajar dan konsultasi
b.
Sebuah tempat, gedung, ruangan atau sejumlah
ruangan yang diatur untuk menyimpan dan menggunakan koleksi buku.
c.
Kumpulan film, foto, dan bahan non buku
lainnya, pita dan cakram plastik atau metal, pita, disket dan program komputer.
d.
Koleksi atau sekelompk koleksi dari buku, dan
atau bahan tercetak maupun noncetak yang diorganisasi dan dirawat untuk
keperluan bacaan, konsultasi, studi, riset dsb. Perpustakaan dikelola untuk
memfasilitasi akses pemustaka, dikelola oleh pustakawan atau pegawai terlatih
lainnya guna memenuhi keperluan pemustaka
2.
Rekod
Merupakan
dokumen yg diciptakan atau diterima oleh badan korporasi, keluarga, perorangan
dalam menjalankan fungsi dan aktivitasnya.
Contoh SIM, KTP, KTM dll.
3.
Arsip
Adalah
berkas pranata umum maupun swasta yang dinilai perlu disimpan secara permanen
untuk untuk tujuan acuan dan penelitian dan telah disimpan atau telah dipilah
untuk disimpan pada sebuah lembaga kearsipan.
BAB III KOMPETENSI PENGELOLAHAN DOKUMEN PUBLIK DAN SEMI PUBLIK
A.
Pengertian
kompetensi
Pengertian kompetensi secara umum
adalah kewenangan atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas atau
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya atau jabatannya. Dengan
demikian,tekanan kewenangan seseorang terhadap tugas-tugas pada suatu jabatan
yang ada dalam sebuah organisasi atau perusahaan tertentu. Secara etimologi
kompetensi berasal dari bahasa inggris “competency”yang
artinya kecakapan atau kemampuan.Sedangkan menurut Purwadarminta kompetensi
adalah sebuah kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan
sesuatu hal,dengan kata lain komppetensi adalah wewenang atau kekuasaan.
Pengelola berasal
dari kata kelola, menurut KBBI adalah mengendalikan atau mengurus. Pengelola
merupakan kata benda yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua
benda.
B.
Kompetensi
pengelola dokumen publik dan semi publik
Kompetensi pengelola dokumen publik
dan semi publik adalah kemampuan dalam mengendalikan atau mengurus dokumen
publik dan semi publik. Pengelola dokumen publik dan semi publik yaitu:
1.
Pustakawan
2.
Record
manager
3.
Arsiparis
4.
Dokumentasi
5.
Ilmuwan
informasi
Menurut The (US) Special Libraries Association (SLA) tahun 1996,
kompetensi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
1.
Kompetensi
profesionalisme , yang terkait dengan dengan pengetahuan dibidang sumber-sumber
informasi, teknologi, manajemen.
2.
Komptensi
individu yang menggambarkan satu
kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai agar dapat bekerja secara efektif.
Kompetensi teknologi informasi yang dibutuhkan pengelola dokumen
adalah:
1.
Penguasaan
atau pemahaman pengetahuan dasar tentang sistem komputer.
2.
Penguasaan
atau keterampilan dan pengetahuan tentnag program pengelola kta dan pengelola
angka dalam komputer.
3.
Penguasaan
keterampilan menelusuri informasi di internet.
4.
Penguasaan
keterampilan atau pemahaman sistem perancangan web designn.
5.
Penguasaan
pengetahuan tentang jaringan komputer.
6.
Penguasaan
pengetahuan tentang penulusar disumber informasi digital serta pembuatan
koleksi digital.
BAB IV PENGORGANISASIAN INFORMASI
A.
Pengertian
organisasi informasi
Organisasi informasi adalah kegiatan mengorganisir informasi agar informasi, dapat:
• Diketahui
lokasi fisik melalui nomor panggil
• Dikenali
melalui sajian ringkas dari bahan pustaka (cantuman bibliografi)
• Menunjang
temu kembali
B.
Jenis-jenis
informasi
1.
Informasi
primer adalah informasi mengenai penelitian yg dilakukan sendiri, penelitian
mengenai aplikasi sebuah teori baru, penjelasan sebuah teori dlm semua bidang
ilmu pengetahuan. Contoh: majalah ilmiah, laporan penelitian, paten, disertasi,
makalah lokakarya.
2.
Informasi
skunder adalah Informasi mengenai dokumen primer yaitu informasi yang merujuk atau
mengacu ke dokumen primer krn isinya merupakan deskripsi dan informasi ttg
dokumen primer. Cth: bibliografi, katalog, majalah indeks, majalah abstrak,
daftar isi.
3.
Informasi
tersier adalah Informasi mengenai dokumen sekunder. Dokumen tersier mengumpulkan,
menyarikan, dan memindahkan informasi yg semula ada pada dokumen sekunder dan
kadang-kadang jg pd dokumen primer kemudian diolah kembali sesuai dgn keperluan
pembaca atau pengguna. Cth: buku ajar, direktori, panduan literatur,
bibliografi dari bibliografi.
C.
Saran
bibliografi
Bibliografi
berasal dari Bahasa Yunani “biblion” yg artinya buku dan “graphein”
yg artinya menulis. Secara etimologis, bibliografi berarti
penulisan buku. Bibliografi adalah suatu daftar terbitan yg
memberikan informasi mengenai data kepengarangan, judul, edisi, tempat terbit,
penerbit, tahun terbit, dan keterangan fisik buku. Dapat diartikan sbg “the listing of titles” yg
berarti daftar hasil karya.
Bibliografi
dikenal dengan istilah:
• Daftar
Pustaka
• Daftar Bacaan
• Referensi
• Daftar Rujukan
• Literatur
• Daftar Acuan
Cantuman bibliografi
Data yang dicatat dalam bibliografi antara lain adalah
• Daerah judul
dan pengarang
• Daerah edisi
• Daerah data
khusus
• Daerah
impresum (nama penerbit, tempat terbit, dan tahun terbit)
• Daerah
kolasi (deskripsi fisik buku)
• Daerah seri
monograf (pernyataan nomor seri)
• Daerah
catatan/ anotasi
• Daerah ISBN
Bibliografi dibagi menjadi dua kelompok
yaitu:
1.
Bibliografi analitis/bibliografi kritis
Memberikan penjelasan (fakta) mengenai pengarang, terbitan, dan asal mula naskah
2.
Bibliografi sistematis
Disusun menurut sistem tertentu, sesuai dgn tujuan penyusunannya, bersifat enumerative.
Sarana bibliografi, Sarana bibliografi adalah suatu sarana atau
alat yg berisi daftar bahan pustaka yg digunakan utk memudahkan penelusuran/
pencarian informasi. Sarana tersebut disajikan dalam berbagai
tampilan, antara lain katalog kartu, katalog tercetak, katalog elektronis baik yang
berupa CD-ROM, pangkalan data, maupun OPAC (On-line Public Access Catalogue)
serta majalah indeks dan abstrak dengan masing-masing jenis dan
karakteristiknya.
BAB V SIKLUS TRANSFER INFORMASI
A.
Pengertian
Informasi adalah suatu kebutuhan
pokok bagi kita, dalam hidup bermasyarakat kita tidak dapat terlepas dari
pentingnya informasi yang dapat di peroleh dari berbagai media, baik media
cetak, elektronik maupun dari kecanggihan internet. ( Lancaster, 1979). Secara etimologi, informasi
berasal dari bahasa perancis kuno informacion (tahun 1387) yang diambil dari
bahasa latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”.
Siklus
informasi adalah gambaran secara umum mengenai proses terhadap data sehingga menjadi
informasi yang bermanfaat bagi pengguna. Informasi yang menghasilkan informasi
berikutnya. Demikian seterusnya proses pengolahan data menjadi informasi.
Informasi juga dapat diartikan sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk
yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Adapun
klasifikasi informasi menurut sumber diantaranya :
a. Informasi
Primer
Adalah hasil karya pengarang atau peneliti
yang orisinil, naskah yang ditulis bisa juga disebut naskah orisinil. Sumber
primer, ada yang diterbitkan da nada yang tidak diterbitkan. Jadi, infomasi
primer adalah tulisan-tulisan yang dibuat dari para peneliti/pengarang bukan
berdasarkan refrensi dari buku lain/orang lain. Contohnya
·
Laporan penelitian
·
Monografi yang deskripsikan suatu masalah
·
Suatu teori yang belum pernah dicetuskan
oleh seseorang
·
Hasil penemuan
·
Thesis, skripsi, dll
b. Informasi
Sekunder
Adalah susunan-susunan informasi yang telah
dirapikan dari sumber informasi primer.dengan suatu cara tertentu. Contohnya :
·
Majalah yang mengulas informasi primer
·
Indeks, mendaftarkan buku/artikel atau
karya lainnya
·
Buku-buku referensi
·
Jurnal
·
Ulasan
·
Essay
c. Informasi
tersier
Adalah sumber informasi untuk memudahkan
para peneliti/para pencari informasi yang mereka cari (Lancaster, 1979). Sumber
tersier merupakan memuat informasi berupa saringan, rangkuman atau kumpulan
dari sumber primer dan sekunder. Contohnya :
·
Director dan buku tahunan
·
Daftar dari bibliografi
·
Katalog induk majalah
·
Daftar dari indeks
·
Daftar dari majalah abstarak
·
Petunjuk informasi
·
Daftar laporan penelitian
·
B. Jenis-jenis
Informasi
1. informasi
berdasarkan fungsinya
Jenis informasi
berdasarkan fungsi adalah informasi yang berdasarkan materi dan kegunaanya.
Informasi jenis ini meliputi,
a. Informasi
yang menambah pengetahuan, misalnya peristiwa bencana alam.
b. Informasi
yang mengajari membaca, misalnya informasi pendidikan
c. Informasi edukatif,
misalnya tulisan trik menjadi mahasiswa aktif, tips menjadi siswa berprestasi
dll.
2. informasi
berdasakan format penyajian
Informasi
jenis ini adalah informasi berdasarkan bentuk penyajian informasi. Jenis
informasi ini antara lain seperti lukisan, foto, karikatur, tulisan teks dll.
3. informasi berdasrkan lokasi peristiwa
Informasi
berdasarkan lokasi peristiwa adalah informasi berdasarkan lokasi peristiwa
berlangsung. Misalnya seperti informasi dari dalam negeri dan informasi dari
luar negri.
4. informasi
berdasarkan bidang kehidupan
Informasi
berdasarkan kehidupan adalah informasi berdasarkan bidang-bidang kehidupan yang
ada, misalnya pendidikan, sastra, budaya, ilmu pendidikan dll.
5. informasi
berdasarkan penyampaianya
Meliputi
informasi yang disediakan secara berkala, secara tiba-tiba, setipa saat, atau
diperoleh berdasarkan permintaan.
C.
Konsep
Siklus Transfer Informasi
Masyarakat pemakai penelitian dan
pengembangan aplikasi:
1. “User
community” atau masyarakat pemakai
Adalah kelompok orang yang menjadi pemakai
informasi.
2. Rule of
Author
Ini berarti bahwa beberapa orang yang
kegiatannya diperkirakan menarik atau penting bagi orang lain, menuangkan
pengalaman, penelitian, atau pendapat mereka dalam semacam bentuk laporan.
3. Rule of
Primary Publication
Inilah peran penerbit primer ( primary
publisher) dalam siklus komunikasi. Sebuah terbitan primer berupa buku, jurnal
laporan teknik, disertasi, paten, dan lain sebagainya.
4. Role of
Primary and secondary Publisher
·
Role of The User
·
Role of Information Center
BAB VI KERANGKA SISTEM INFORMASI
A.
Pengertian
sistem informasi
Sistem
informasi yaitu suatu sistem yang mana terdiri dari teknologi atau alat, media
yang digunakan, prosedur yang terorganisir,serta sumber daya manusia yang di
dalamnya bekerja sebagai sebuah sistem yang terorganisir. Kombinasi antara
teknologi dan manusia ini bekerja untuk mendapatkan sebuah informasi yang
kemudian digunakan untuk mendukung suatu menejemen una mengambil sebuah
kebijakan atau keputusan. Sebagai
contoh: Perusahaan toko buku mempunyai sistem informasi yang menyediakan
informasi penjualan buku-buku setiap harinya, serta stock buku-buku yang
tersedia, dengan informasi tersebut, seorang manajer bisa membuat kebutusan,
stock buku apa yang harus segera mereka sediakan untuk toko buku mereka,
manajer juga bisa tahu buku apa yang paling laris dibeli konsumen, sehingga
mereka bisa memutuskan buku tersebut jumlah stocknya lebih banyak dari buku
lainnya.
Pengertian
sistem informasi menurut John F. Nash Sistem Informasi adalah kombinasi dari
manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang
bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi
tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan
menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat. Pengertian sistem informasi
menurut Henry Lucas Sistem Informasi adalah suatu kegiatan dariprosedurprosedur
yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi akan menyediakan informasi untuk
mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian di dalam.
B.
komponen
sistem informasi
Bahan pustaka, merupakan media
informasi rekam baik cetak maupunnon cetak merupakan komponen utama sistem
informasi.
Susunan koleksi, ada 2 cara dalam
menyusun koleksi perpustakaan yaitu: Penempatan relatif yaitu penampilan suatu
koleksi berdasarkan subjek bahan pustaka tersebut dan Penempatan tetap
yaitu menampilkan susunan koleksi berdasarkan pada suatu ciri bahan
pustakan kecuali ciri subjek.
Sarana temu kembali informasi, Ada
beberapa sarana temu kembali yang biasa digunakan oleh pemustaka,antara
lain:Bibliografi,katalok indeks search engine. Pemustaka, suatu komponen yang
akan memanfaatkan koleksi perpustakaan . Pemustakan melakukan penelusuran
informasi baik melalui katalog maupun langsung ke jajaran koleksi
C.
Contoh
komponen sistem informasi
Salah satu contoh sisfo adalah TPS (
Transaction Processing System). TPS ini adalah sebuah sistem informasi yang
digunakan dalam transaksi bisnis. Sistem ini diciptakan untuk membantu dalam
proses pengolahan data yang berjumlah besar dan transaksi dalam tempo yang
rutin. Sistem informasi ini biasanya di aplikasikan dalam bentuk program yang
digunakan untuk mengatur manajemen inventaris dan gaji karyawan di sebuah
perusahaan. Dengan menggunakan sistem informasi ini, data yang dihasilkan dan
dimanfaatkaan secara praktis bisa lebih valid dan bisa membantu kinerja agar
lebih efektif.
D.
Proses
dalam sistem informasi
Proses yang terjadi di perpustakaan
sebagai sistem informasi meliputi dua kegiatan yaitu:
·
Pengindeksan,
terjemahan dalam istilah indexing yang meliputi semua proses yang berkaitan
dengan masukan pada sitem tersebut, seperti analisis subjek, klasifikasi dan
pembuatan katalog
·
Temu
kembali informasi, dikerjakan pada bagian keluaran oleh pengguna melalui
penelusuran yang ditunjukkan pada garis putus-putus. Proses temu kembali
berakhir dengan penyampaian bahan pustaka dari susunan koleksi kepafda pengguna
yang ditunjukkan dengan garis lurus.
a.
Pengindeksan
dan Indeks
1)
Pengertian
Indeks
Indeks berasal dari bahasa Inggris indicate berarti
menunjukkan. Kata indicate ini berasal dari bahasa Latin indicare yang berarti
menunjukkan/ to show. Menurut Lasa Hs dalam bukunya Kamus Kepustakawanan
Indonesia (2009:110) indeks adalah petunjuk yang berupa huruf, angka maupun
tanda lain untuk memberikan pengarahan kepada pencari informasi bahwa informasi
yang lebih lengkap maupun informasi terkait dapat ditemukan pada sumber yang
ditunjuk.
2)
Pengertian
Pengindeksan
Pengindeksan merupakan kegiatan pendeskripsian isi
dokumen dengan memilih istilah yang paling tepat sehingga mewakili isi dokumen.
Pengindeksan subjek merupakan bagian dari proses pengolahan dokumen/ bahan pustaka
di perpustakaan. pengindeksan ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat wakil
dokumen sehingga memungkinkan ditemukannya dokumen yang relevan dengan suatu
permintaan.
b.
Jenis-jenis indeks
·
indeks belakang buku
·
indeks berantai
·
indeks nama/pengarang
·
indeks berabjad
·
indeks kata kunci (key word)
c. Tujuan Penyusunan Indeks
·
Efisiensi dan
efektivitas dalam penelusuran informasi
·
Memberikan informasi
yang lebih rinci
·
Memanfaatkan sumber
informasi secara optimal
·
Menganalisa, merinci,
dan meringkas isi naskah menjadi unit-unit yang lebih kecil
d. Fungsi Indeks
·
Alat penunjuk informasi
·
Alat penelusur
informasi
·
Alat penghubung antar
subjek atau antar literatur
e. Struktur Indeks
·
Tajuk/ heading, yaitu
kata atau ungkapan pada bagian awal entri. Tajuk ini berfungsi untuk menentukan
letak suatu entri dalam susunan indeks yang disusun alfabetis dan merupakan
titik telusur dari suatu entri. Tajuk indeks bisa berupa subjek, pengarang, dan
lainnya.
·
Modifikasi, yaitu kata atau istilah yang membahas lingkkup
atau tajuk agar lebih informatif.
·
Lokator, yaitu referensi yang menunjukkan letak dan atau
informasi yang dimaksud dapat ditemukan.
f.
Katalog sebagai Indeks
Perpustakaan
·
Katalog menunjukkan
ketersediaan koleksi perpustakaan
·
Katalog menunjukkan
ketersediaan koleksi perpustakaan
Perpustakaan memerlukan katalog adalah untuk menunjukkan ketersediaan koleksi yang dimilikinya. Untuk itu, perpustakaan memerlukan suatu daftar yang berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilikinya.
Perpustakaan memerlukan katalog adalah untuk menunjukkan ketersediaan koleksi yang dimilikinya. Untuk itu, perpustakaan memerlukan suatu daftar yang berisikan informasi bibliografis dari koleksi yang dimilikinya.
g. Pengertian katalog menurut para ahli
Hunter
menyatakan bahwa katalog adalah suatu daftar dari, dan indeks ke, suatu koleksi
buku dan bahan lainnya. Katalog memungkinkan pengguna untuk menemukan suatu
bahan pustaka yang tersedia dalam koleksi perpustakaan tertentu.Gates (1989,
62) menyatakan bahwa, katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis
dari buku dan bahan-bahan lain dalam suatu perpustakaan, dengan informasi
deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik,
subjek, ciri khas bahan dan tempatnya. Pendapat ini menjelaskan apa yang
menjadi entri dari suatu katalog.(Taylor 1992, 6). Uraian ini menekankan
keberadaan katalog perpustakaan yang merupakan representasi dari berbagai bahan
pustaka yang ada di suatu perpustakaan.Sulistyo-Basuki (1991, 317) menyatakan
hal yang senada yaitu, katalog perpustakaan adalah senarai dokumen yang
dimiliki sebuah perpustakaan atau kelompok perpustakaan.
h.
Pengertian katalog Menurut Para Ahli.
·
Wakil
Dokumen Ringkas
1)
Pengertian
wakil dokumen ringkas
Wakil Dokumen RingkasWakil
ringkas atau pengganti ringkas dokumen (condensed document representations atau
condensed document surrogates) terdiri atas sekelompok data bibliografi yang
mengidentifikasi dokumen.
2) Beberapa wakil dokumen ringkas
Katalogisasi (cataloging): Kegiatan atau proses
pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM,
mikrofilm, dll.)Abstrak adalah upaya para pustakawan dan pengelola sistem
informasi untuk memudahkan pemanfaatan koleksi atau dokumen oleh penggunanya,
terutama dokumen tekstual.
BAB VII PENGINDEKSAN SUBJEK
A.
Pengertian
pengertian subjek
Dalam ilmu perpustakaan indeks
memiliki arti yang lebih luas. Ada 2 unsur penting dalam kegiatan pengindeksan,
yaitu orang yang membuat indeks atau indekser dan objek yang di indeks. Objek
yang diindeks meliputi buku,artikel,jurnal, atau laporan. Indeks yang
dihasilkan diharapkan berguna sebagai penelusuran informasi yang dibutuhkan.
Istilah indeks di peroleh melalui proses pengindeksan.
Menurut Clevelend ( 2001:97 ), indexing is the process identifiying
information in a knowledge record ( text or nontext) an organizing the pointers
to date information in to searchable file. Definisi diatas merupakan proses
identifikasi informasi dalam sebuah catatan pengetahuan baik teks maupun
nonteks dan pengorganisasian nilai-nilai informasi untuk pencarian file. Dari
pendapat diatas bahwa pengindeksan adalah kegiatan pengorganisasian nilai-nilai
informasi.
Menurut Konfhage dalam Adriaty (
2002:1 ), menyatakan bahwa indeks merupakan hasil utama dari proses analisis
dokumen, dibuat untuk keperluan temu kembali informasi dalam suatu pangkalan
data atau dalam majalah sekunder tercetak. Suatu indeks harus memberikan
kemungkinan bagi pengguna untuk dapat mengakses suatu dokumen maupun sekumpulan
secara efisiensi.
Pendapat tersebut dapat dinyatakan
bahwa indeks merupakan hasil dari proses analisis dokumen untuk dapat diakses
oleh pengguna dalam pencarian informasi. Dari pendapat diatas bahwa pengindeksan adalah proses identifikasi
dan analisis dokumen dalam kegiatan pengorganisasian nilai-nilai informasi yang
mampu mewakili isi dokumen agar dapat diakses oleh pengguna dalam keperluan
penelusuran informasi. Dengan demikian indeks sangat penting dalam keperluan
penentuan representasi informasi dan dokumen tertentu kembali informasi.
Tujuan utama pengindeksan ialah
untuk membentuk representasi dari dokumen dalam bentuk yang sesuai (
Lanchaster,1998:1 ) dalam ( Hasugian,1999:5 ). Pendapat tersebut dapat
dinyatakan bahwa tujuan utama pengindeksan adalah untuk membuat wakil dokumen
yang memudahkan proses penemuan kembali.
B.
Konsep
Pengindeksan Subjek
Konsep pengindeksan subjek dalam
satu bahan pustaka dibedakan menjadi tiga (Miswan 2003:4), yaitu :
1.
Disiplin
ilmu, yaitu istilah yang digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu
pengetahuan. Disiplin ilmu dapat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu:
a.
Disiplin
fundamental, yang meliputi bagian-bagian utama ilmu pengetahuan. Oleh para ahli
disiplin fundamental dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : ilmu-ilmu sosial,
ilmu-ilmu pengetahuan alam, dan ilmu-ilmu kemanusiaan.
b.
Sub
disiplin, merupakan bidang spesial dalam satu disiplin fundamental. Misalnya
dalam disiplin ilmu fundamental alam, sub disiplinnya terdiri dari fisika,
kimia, biologi, dan sebagainya.
2.
Fenomena
( topik yang dibahas ), merupakan wujud/benda yang menjadi objek kajian dari
disiplin ilmu.
3.
Bentuk
ialah cara bagaimana suatu subjek disajikan. Dibedan menjadi tiga jenis :
a.
Bentuk
fisik, yakni medium atau sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu subjek.
Misalnya dalam bentuk buku, majalah, pita rekaman, dan sebagainya.
b.
Bentuk
penyajian, yang menunjukkan pengaturan atau organisasi isi bahan pustaka. Ada
tiga bentuk penyajian, yaitu : menggunakan lambing-lambang dalam penyajiannya
seperti bahasa dan gambar, memperhatikan tata susunan tertentu misalnya abjad,
kronologis, sistematis, dan sebagainya, serta menyajikannya untuk kelompok
tertentu, misalnya bahasa Inggris untuk pemula.
c.
Bentuk
intelektual, yaitu aspek yang ditekankan dalam pembahasan suatu subjek.
Misalnya Filsafat Sejarah disini yang menjadi subjeknya
adalah sejarah
sedangkan filsafat adalah bentuk intelektual.
C.
Standar
Pengindeksan Subjek
Standar merupakan aturan yang berguna untuk membimbing, tetapi bisa
bersifat wajib. Pengimdeksan subjek mencakup proses pencatatan ciri-ciri
dokumen yang penting, analisis isi, klasifikasi dan pembuatan entu katalog.
Bertujuan untuk memungkinkan ditemukannya dokumen yang relevan dengan
suatu permintaan dengan cepat. Oleh karenanya dalam pengindeksa subjek harus
memperhatiakan :
1.
Subjek
maupun pokok masalah yang akan diindeks harus betul-betul dibutuhkan oleh
pemustaka.
2.
Semua
entri harus disusun alfabetis menurut abjad latin.
3.
Dalam
pemilihan tajuk hendaknya dipilih istilah yang popular dan mudah dikenal.
4.
Memilih
tajuk yang spesifik, khusus, dan rinci.
5.
Menggunakan
Ejaan Yang Disempurkan ( EYD ).
6.
Dalam
keadaan tertentu digunakan tajuk gabungan seperti Bank atau Banking.
7.
Nama
orang harus ditulis lengkap.
8.
Apabila
perlu bisa digunakan antonim.
9.
Apabila
terdapat suatu kata yang kebetulan digunakan dalam bidang yang berbeda dan dan
memiliki arti yang berbeda, sebaiknya diberi keterangan diantara dua kurung.
10.
Untuk
indeks nama departemen atau lembaga terkenal tidak perlu ditulis nama
negaranya.
11.
Untuk
membedakan nama diri dengan nama lain ( gunung, kota, tempat, dan lain-lain )
maka untuk nama diri ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertama.
12.
Untuk
memberikan informasi yang lebih rinci dibuat petunjuk dari subjek utama ke
bagian-bagian lainnya.
13.
Untuk
membuat indeks bidang sejarah maupun biografi dapat dilihat urutan kronologis
dan bukan alfabetis.
14.
Lambing
atau singakatan yang masih asing hendaknya ditulis kepanjangannya.’
15.
Untuk
pembuatan indeks penulis, maka nama orang yang telah menjadi nama alat, rumus,
hukum, sistem, seperti : Watt dan Newton tidak perlu dicantumkan lagi.
BAB VIII AUTHORITY
CONTROL DAN
AUTHORITY LIST
A.
Pengertian Authority Control dan Authority
List
Kata authority berasal dari gagasan bahwa nama-nama orang, tempat,
benda dan konsep diotorisasi. Yaitu mereka dibentuk dalam satu bentuk tertentu.
Judul atau pengenal ini diterapkan secara konsisten di seluruh katalog yang
menggunakan file otoritas masing-masing dan diterapkan untuk metode lain dalam
mengatur data seperti hubungan dan referensi silang. Entri terkontrol
dijelaskan dalam catatan otoritas dan dalam hal ruang lingkup dan
penggunaannya, dan organisasi ini juga membantu staff perpustakaan
mempertahankan katalog dan membuatnya mudah digunakan para pengguna.
Authority control tidak hanya menyangkut data bibliografi. Dalam
subsistem sirkulasi juga menjadi salah satu pilar sistem
automasi perpustakaan. Jadi, Authority control adalah
kegiatan menetapkan, membuat, dan menggunakan istilah standar yang dipakai
dalam katalog perpustakaan beserta acuannya. Sampai saat ini authority control
belum banyak digunakan, padahal authority control merupakan hal yang penting
bagi perpustakaan sebagai bentuk kontrol bibliografi. Oleh karena itulah, perlu
dikembangkan sebuah sistem authority control yang efektif, yang dapat dijadikan
alat atau sarana bagi pustakawan dalam menentukan keseragaman akses pada
katalog sehingga terdapat konsistensi dalam penentuan titik akses informasi dan
untuk meningkatkan hasil temu kembali informasi. Sedangkan Authority list merupakan
daftar judul yang dipilih untuk digunakan dalam katalog, disusun sebagai karya
referensi resmi oleh para katalog untuk digunakan di dapartemen katalog.
Authority list merupakan formulir yang disetujui dari setiap judul untuk
menghilangkan pencarian lebih lanjut jika judul yang sama diminta lagi untuk
katalogisasi buku – buku selanjutnya, nama orang, tempat file otaritas.
B.
Tahapan Pelaksanaan Authority Control
-
Memastikan titik-titik temu unik dan
konsisten dalam isi dan bentuk
-
Meningkatkan ketetapan dan perolehan data
-
Menyediakan satu jaringan yang
menghubungkan berbagai tajuk yang berhubungan pada katalog
-
Meningkatkan temu kembali dengan
menyediakan konsistensi pada bentuk-bentuk tajuk yang digunakan untuk
mengidentifikasi pengarang, nama tempat, judul seragam, seri dan subjek
(Ferguson
2005) menyebutkan bahwa dengan adanya keseragaman istilah akan membuat penelusuran
di perpustakaan menjadi semakin efisien dan akurat.
C. Contoh Penggunaan
·
Seperti pengaplikasian Authority Control
pada katalog online OPAC memungkinkan pengguna untuk menelusur dengan pengarang
atau istilah yang umum. Dengan adanya Authority Control akan memudahkan
pengguna dalam menelusur informasi. Dalam bentuknya yang paling sederhana,
Authority control terlihat oleh pemakai sebagai sebuah daftar sederhana yang
mengandung sebuah nama atau istilah resmi yang dipakai didalam katalog yang
bersangkutan. Misalnya : sebuah nama file berisi daftar nama-nama pengarang
yang mungkin muncu di salah satu ruas katalog. Bagi pemakai, daftar nama
tersebut berfungsi sebagai pernyataan tentang cara menuliskan nama yang benar
dan yang dapat diterima oleh katalog sebagai nama “resmi”.
·
Authority control dapat juga dipakai untuk
mengecek atau memvalidasi nama anggota perpustakaan. Misalnya : ketika seorang
petugas perpustakaan atau sebuah mesin pengembalian buku otomatis mnerima nama
dan identitas seorang anggota perpustakaan, maka komputer pertama-tama akan
melakukan pengecekan ke sebuah berkas yang berisi daftar semua anggota
perpustakaan.
·
Untuk membantu menemukan file yang tepat
untuk mengindeks materi bergambar seperti ketika membuat katalog foto
documenter, kartun, cetakan, poster, ilustrasi, dangambar desain.
·
di
dalam katalog terdapat nama atau ejaan yang berbeda hanya untuk satu orang atau
subjek. Authority control digunakan oleh pustakawan membuat katalog untuk
mengumpulkan bahan-bahan yang secara logis dimiliki bersama tetapi yang
menampilkan diri mereka secara berbeda. Sebagai contoh : istri pertama Charles,
“Prince of wales” digambarkan oleh artikel Diana, misalnya Putri Diana , tetapi
baik Putri Diana dan Diana, Prince of wales menggambarkan orang yang sama.
Catatan otoritas akan memilih satu judul sebagai yang disukai untuk
konsistensi. Dalam katalog perpustakaan online, berbagai entri mungkin terlihat
seperti ini :
1.
Diana. (1)
2.
Diana, Putri Wales. (1)
3.
Diana, Princess of Wales, 1961-1997 (13)
4.
Diana, Princess of Wales, 1961- 1997 (1)
5.
Diana, princess of Wales, 1961- 1997 (2)
6.
DIANA, PRINCESS OF WALES, 1961-1997
Istilah istilah yang berbeda ini
menggambarkan orang yang sama. Dengan demikian, authority control mengurangi
penulisan ini ke satu penulisan unik atau judul resmi.
BAB IX KATALOGISASI
A.
Pengertian
katalogisasi
Katalog merupakan himpunan rujukan
atau berkas yang teratur untuk mencatat pustaka atau koleksi. Katalog bisa
disusun berdasarkan alfabetis nama pengarang, judul, nama penerbit, dll.
Katalog adalah presentasi ciri-ciri
dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi
fisik, subyek, dll.) kolelsi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan
pustaka tesebut yang disusun seacara sistematis.
Jadi, katalogisasi (cataloging)
adalah pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan menginterpretasikan dan
menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam
menjadi katalog.
B.
Fungsi
dan Tujuan Katalogisasi
a.
Fungsi
Katalogisasi
Fungsi
katalogisasi seacara umum adalah sebagai berikut:
1.
Mencatat
bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna.
2.
Mencari
atau menelusur pustaka.
3.
Mempermudah
pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subjek.
Adapun fungsi dari katalog adalah sebagai berikut:
1.
Menunjukan
tempat suatu buku atau bahan lain dengan menggunakan simbol-simbol angka
klasifikasi dalam bentuk nomor panggil.
2.
Mendaftar
semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nsms pengarang, juduk buku,
atau subjek buku yang bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan
untuk memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan.
3.
Memberikan
kemudahan untuk mencari suatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya
salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan
Agar katalog dapat berfungsi
semaksimal mungkin, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh
pustakawan:
·
Katalog
perpustakaan harus lengkap memuat keseluruhan ciri-ciri buku
·
Katalog
perpustakaan harus fleksibel
·
Katalog
perpustakaan harus disusun dengan sistematis sehingga bisa dengan mudah
dimanfaatkan
·
Katalog
perpustakaan dibuat seekonomis mungkin dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
·
Pustakawan
hendaknya memberikan petunjuk kepada pengguna dalam hal penggunaan katalog sehingga
pengguna dapat memanfaatkannya seoptimal mungkin.
Tujuan Katalogisasi Seperti telah
disebutkan semula, perpustakaan membeli buku untuk kepentingan pemakainya.
Katalog perpustakaan mencatat data mengenai buku itu sehingga pembaca dapat
menemukannya dengan cepat. Karena itu katalog harus mencatat data yang lengkap
menegenai buku yang ada di perpustakaan. Tujuan katalog seperti itu telah
diuraikan oleh pustakawan Cutter pada tahun 1876. Adapun tujuan atau objek
katalog ialah:
1)
Memungkinkan
seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan
a.
Pengarangnya
b.
Judulnya,
atau
c.
Subjeknya
2)
Menunjukan
buku yang diniliki perpustakaan
a.
Oleh
pengarang tertentu,
b.
Berdasarkan
subjek tertentu, atau
c.
Dalam
jenis literatur tertentu
3)
Membantu
dalam pemilihan buku
a.
Berdasarkan
edisinya, atau
b.
Berdasarkan
karakternya (sastra ataukah topik)
Tujuan
pertama menekankan bahwa katalog perpustakaan bertindak selaku daftar temuan
bagi dokumen tertentu. Ini memerlukan penyediaan data bagi masing-masing buku
dan memungkinkan ancangan berdasarkan pengarang, judul, dan subjek. Tujuan
kedua menekankan bahwa katalog perpustakaan harus bertindak sebagai daftar
temuan bagi sekelompok dokumen. Ini memerlukan penyedian entri seragam bagi
setiap kelompok. Tujuan ketiga berkaitan dengan deskripsi buku dalam katalog,
sehingga pemakai dapat membedakan berbagai edisi dari buku tertentu dan
memungkinkan pemilihan buku dengan pemnyediakan
ciri khusus.
C.
Jenis
dan Bentuk Katalogisasi
Jenis-jenis Katalog
1)
Katalog
Abjad
a.
Katalog
pengarang. Terdiri dari entri pengarang disusun menurut abjad. Katalog
pengarang merupakan katalog paling tua serta jenis paling penting dalam dunia
kepustakawanan. Katalog pengarang memeberikan informasi mengenai karya seorang
pengarang yang dimiliki perustakaan. Pengertian pengarang mencakup juga editor,
compiler, ilustrator, penerjemah, dan sebagainya.
Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui nama pengarangnya.
Atau ingin mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja. Katalog
pengarang disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam
kabinet katalog. Penulisan nama pengarang adalah dengan cara menuliskan
terlebih dahulu nama keluarga.
b. Katalog judul. Merupakan entri judul yang disusun menurut abjad. Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui judul bukunya. Atau
ingin mengetahui judul buku tertentu yang sama telah dikarang oleh
pengarang mana saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan
judul dalam kabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul
buku yang sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda.
c.
Katalog
subjek merupakan entri subjek disusun menurut abjad. Jajaran ini memungkinkan
pemakai mengakses katalog menurut subjek.
d. Katalok leksikal. Merupakan katalog yang mencakup semua entri alam
satu jajaran. Dalam susunan ini, katalog pengarang, judul, dan subjek dijadikan
satu dalam sebuah urutan. Katalog tersebut sering kali disebut katalog kamus
karena mudah digunakan seperti layaknya sebuah kamus. Katalog leksikal (directionary catalogue)
Digunakan bila kita ingin mengetahui
berbagai buku yang membahas subyek yang sama, biasanya sering digunakan dalam
mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb.
yang membahas suatu subyek tertentu. Melalui katalog subyek akan
diketahui karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul
yang berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahsan yang sama.
2)
Katalog
kelas merupakan katalog dengan entri subjek disusun menurut bagan sebuah
klasifikasi
3)
Alphabetico-classed
Catalogue. Dalam susunan ini, mula-mula entri katalog disusun menurut susunan
kelas, kemudian subdivisi dalam kelas tersebut disusun menurut abjad.
4) Katalog terbagi Yaitu katalog yang
sebelumnya dibagi berdasarkan : Subjek, Pengarang, dan Judul.
Masing-masing kelompok kemudian disusun berdasarkan abjad (secara alfabetis).
5)
Shelf
Listadalah katalog buku sesuai dengan susunan buku di rak.
Bentuk Katalog
Bentuk-bentuk katalog ialah:
1)
Katalog
Manual
Merupakan jenis katalog tradisional yang menggunakan lembar lepas
atau kartu atau berbentuk buku. Lazimnya katalog berbentuk buku cepat
ketinggalan zaman karena tidak dapat mengikuti zaman perkembangan data. Kini unit informasi
menggunakan komputer untuk mmepercepat peremajaan katalog. Hasilnya ialah
cetakan komputer yang dikeluarkan unit informasi setiap bulan dengan kumulasi
tahunan.
2)
Katalog
Semi Mekanis
Dibuat pada kartu khusus dan memerlukan gawai untuk merekam data.
Bentuk lain ialah kartu tebuk (punched cards).
6)
Katalog
Berkomputer
Dapat merekam data bibliografis dslsm media terbacakan komputer
(kartu tebuk, pita magnetis, cakram magnetis) disusn seperti berkas bibliografis.
Untuk memeriksanya, pemakai harus menggunakan komputer.
Katalog berdasarkan bentuk fisiknya yaitu:
1)
Katalog
Kartu
Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua
deskripsi blibigrafinya dicatat pada kartu berukuran 7,5x12,5cm, terbuat dari
kertas karton manila dengan ketebalan 0,025cm, setiap kartu berisi satu katalog.
Katalog kartu disusun secara sistematis pada laci katalog.
Keuntungan katalog berbentuk kartu ialah bersifat praktis, sehingga
setiap kali penambahan buku baru diperpustakaan tidak akan menimbulkan masalah,
karna entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada. Kelemahannya
adalah satu laci katalog hanya menyimpan satu jenis entri saja, sehingga
pemustaka sering harus antri menggunakannya, terutama bila melakukan penelusuran
melalui entri yang sama.
2) Katalog buku (book catalog)
Katalog berbentuk buku, katalog tersebut sering juga disebut katalog
tercetak (printed catalog). Keuntungan dari katalog berbentuk buku
adalah dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan, dapat diletakkan pada berbagai
tempat, dan mudah disebarluaskan ke perpustakaan lain.
Kelebihan dari katalog buku ini adalah entri pada katalog berbentuk buku
dapat ditemukan dengan cepat, mudah menyimpannya, mudah menanganinya, bentuknya
ringkas dan rapi.
Kelemahan dari katalog/indeks berbentuk buku adalah cepat usang atau
ketinggalan jaman. Hal itu terjadi karena setiap kali perpustakaan
memperoleh buku baru, berarti katalog sebelumnya harus diperbaharui kembali,
atau setidak-tidaknya membuat suplemen. Dengan demikian, katalog
berbentuk buku ini tidak luwes. Biaya pembuatan berbentuk buku cenderung
lebih mahal, karena bentuk dan jumlah cantumannya sering berubah, katalog
berbentuk buku cenderung ditinggalkan oleh perpustakaan dan beralih ke katalog
kartu.
3)
Katalog
Berkas
Merupakan kumpulan kertas/kartu berupa lembaran berukuran
7,5x12,5cm. Atau 10x15cm. Masing-masing lembaran berisi data katalog. Pada
bagian kiri diberi karton tebal berfungsi sebagai pelindung. Setiap berkas
dapat memuat antara 500 hingga 600 lembar. Berkas yang sudah terjilid kemudian
disusun menurut nomor kelas menjadi buku atau album.
Keuntungannya adalah mudah digunakan, pengguna dapat menggunakan
katalog berkas yang berbeda-beda. Sedangkan kerugiannya adalah sekali adanya
penambahan harus membongkar berkas, cenderung mudah hilang karena bentuknya lebih
kecil daripada katalog buku.
4)
Katalog
Komputer Terpasang
Katalog komputer terpasang (online computer catalog) sering disebut
dengan Online Public Access Catalogue (OPAC), yaitu bentuk katalog terbaru yang
telah digunakan pada sejumlah perpustakaan tertentu, opac disebut dengan istilah katalog online. Opac dapat diakses
secara umum. Fungsi opac sebagai sarana temu balik informasi yang dapat
diintegrasikan sebagai sistem sirkulasi. Selain sebagai alat bantu penelusuran,
opac juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memeriksa status suatu bahan
pustaka. Melalui opac pengguna dimungkinkan juga dapat mengetahui lokasi atau
tempat penyimpan suatu bahan pustaka. Opac berbentuk website.
OPAC menjadi pilihan bentuk
katalog yang digunakan diberbagai perpustakaan. Dari berbagai bentuk
fisik katalog yang telah digunakan di perpustakaan, OPAC dianggap paling luwes
(flexible) dan paling mutakhir (Taylor 1992). Program
aplikasi yang digunakan di perpustakaan, seperti CDS/ISIS, Inmagic, VTLS,
Dynix, Tinlib, dan lain-lain.
Katalog OPAC mempunyai banyak keuntungan, diantaranya adalah :
1.
Penelusuran informasi
dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
2. Penelusuran dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa saling mengganggu
3. Jajaran tertentu tidak perlu di-file
4. Penelusuran dapat dilakukan dari berbagai pendekatan sekaligus
5. Rekaman bibliografi yang dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas
Namun demikian, trdapat beberapa kelemahan OPAC, antara lain:
1. Lebih sensitif terhadap “speling” karena setiap kesalahan eja akan muncul
yang tidak diinginkan, atau pengguna akan menjadi bingung dengan munculnya
terlalu banyak bibliografi.
2. Perlu adanya training bagi pemustaka.
3. Dan tidak akan berfungsi jika listrik padam.
Contoh: OPAC SUNAN KALIJAGA
D.
Tahapan
Membuat Kartu Katalog
Sebelum membuat atau mengetik kartu catalog, maka ada dua hal yang
perlu dilakukan yaitu sebagai berikut:
1.
Kartu
katalog
Untuk membuat catalog kartu diperlukan selembar kartu untuk setiap
judul buku. Karna itu perlu dipersiapkan kartu terlebih dahulu dengan ukuran
dan bentuk sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu: ukuran panjangnya
12,5 cm dan lebarnya 7,5 cm, di tengah tengah bagian bawahnya diberi lubang
untuk menusukan tusuk pengaman.
2.
Temporary
slip (T-slip)
Merupakan
catatan atau keterangan-keterangan mengenai buku pada selembar kertas yang
berukuran kurang lebih ¼ folio atau bisa juga berukuran 15 x 10 cm. temporary
slip ini dibuat untuk memudahkan pengetikan kartu catalog. Keterang-keterangan
yang seharusnya dituliskan pada lembar temporary slip ini sama dengan
keterangan yang seharusnya dituliskan pada kartu catalog. Yaitu meliputi nomor
klasifikasi (nomor penempatan), judul buku, nama pengarang,impritnt (kota
terbit, nama penerbit, tahun terbit), kolasi (table buku, ukuran
buku,https://www.acheterviagrafr24.com/achat-viagra-en-ligne-en-france/
bibliografi, indeks, illustrasi, tabel).
Cara pembuatan katalog :
a.
Nomor
klasifikasi
Nomor klasifikasi diketik pada sudut kiri atas kartu katalog. Di
bawah nomor klasifikasi, keti 3 hiruf capital kependekan nama keluarga/ utama
pengarang. Jadi apabila pengarangnya bernama Drs. CS.T. Kansil, SH., maka yang
diketi adalah KAN. Setelah itu, dibawah tiga huruf capital tersebut diketik
satu huruf kecil dari huruf pertama judul buku.jadi apabila bukunya berjudul
“pengelolaan perpustakaan” maka dibawah 3 huruf capital diketik huruf p.
b.
Pengarang/
Tajuk entri utama
Nama pengarang buku diketik dengan huruf besar semua dimulai pada
indensi pertama sejajar dengan nomor penempatan atau nomor klasifikasi. Nama
pengarang asing yang biasanya diikuti dengan nama keluarga, maka pengetikannya
dibalik, dan yang diketik huruf besar semua hanya nama keluarganya. Misalnya
pengarang bernama Carter V. Good. Maka pengetikannya adalah GOOD, Carter V.
(antara nama keluarga dan nama utama dipisahkan dengan koma), jika hanya
sebagai editor, penerjemah, atau pengarangnya lebih dari satu orang, maka
dibelakang nama diketik atau diberi tanda (Ed) untuk editor, (dkk) untuk
pengarang yang lebih dari satu, dan (penerj) untuk penerjemah.
c.
Judul
buku
Judul buku diketik mulai pada indensi kedua dibawah huruf keempat
ketikan nama pengarang. Jika ada sub judulnya, diketik setelah judul utama yang
dipisah dengan tanda titik koma. Apabila judulnya panjang sehingga tidak bisa
diketik dalam satu baris, maka pengetikannya diteruskan ke baris kedua yang
dimulai pada indensi pertama.
d.
Nama
pengarang lengkap
Setelah pengetikan judul diteruskan dengan nama lengkap pengarang
yang diberi tanda titik. Pengetikan nama lengkap pengarang ini tidak dibalik
walaupun nama orang asing. Apabila ada edisinya, maka edisi ini diketik setelah
nama lengkap pengarang.
e.
Imprint
Imprint( nama kota tertib, nama penerbit, dan tahun terbit) ini
diketik setelah nama pengarang atau edisi. Antara nama pengarang dengan imprint
ini diberi jarakdua huruf. Antara nama kota tebit dan nama penerbit serta tahun
terbit dipisah dengan tanda koma. Dan diakhiri dengan tanda titik.
f.
Kolasi
Kolasi
(table buku, ukuran buku, bibliografi, indeks, illustrasi, table) tidak diketik
bersambung dengan imprint, tetapi diketik pada baris berikutnya mulai pada
indensi kedua. Apabila pengetikan kolasi ini tidak cukup dalam satu baris dan
dilanjutkanpada baris berikutnya pada indensi pertama
Pengetikan katalog judul tidak jauh berbeda dengan pengetikan
katalog pengarang dan juga katalog subyek. Adapun perbedaannya adalah sebagai
berikut:
1)
Pada
katalog judul, diatas tajuk entri utama diketikkan judul buku yang dimulai pada
indensi kedua.
2)
Pada
catalog pengarang nama keluarga utama diketik dengan huruf besar semua,
sedangkan pada katalog judul diketik dengan huruf kecil semua.
3)
Pada
catalog subyek diatas tajuk entri utama diketikkan subyek sebagaimana pada
katalog judul. Pengetikan sub.
4)
Pada
catalog subyek diatas tajuk entri utama diketikkan subyek sebagaimana pada
katalog judul. Pengetikan subyek tersebut dengan huruf besar semua.
Cara penulisan catalog
1) Pengetikan katalog
pengarang
Nama pengarang diketik di atas tajuk entri utama,nama pengarang
diketik dengan huruf besar.
2) Pengetikan katalog
judul
Cara pengetikannya tidak jauh beda dengan katalog
pengarang,perbedaannya kalau pada katalog judul,di atas tajuk entri utama
diketikkan judul buku yang dimulai pada indensi kedua,pada catalog judul nama
keluarga/utama yang menjadi tajuk entri diketik dengan huruf kecil.
3) Pengetikan
katalog subyek
Pengetikan katalog subyek tidak jauh beda dengan catalog pengarang
dan judul ,perbedaannya di atas tajuk entri utam diketik subyek sebagaimana
pada catalog judul,pengetikannya dengan huruf besar dimulai dengan idensi
utama.
Adapun pedoman untuk menentukan tajuk entri utama adalah:
1)
Suatu
karya yang disusun oleh seorang pengarang maka tajuk entri utamanya adalah
pengarang yang bersangkutan.
2)
Apabila
ada dua orang pengarang,yang diantaranya ada pengarang utama maka tajuk entri
utamanyaadalah pengarang utama.
3)
Apabila
pengarangya terdiri dari dua atau lebih pengarang dan tidak ada pengarang utama
maka tajuk entri utamanya adalah pengarang yang disebut pertama kali.
4)
Apabila
tidak ada pengarang atau tidak diketahui pengarangnya,maka tajuk entri utamanya
terletak pada judul karyanya.
5)
Suatu
karya yang merupakan karya editor,tajuk entri utamanya terletak pada judul
karyanya.Apabila tidak memiliki judul kolektif,maka tajuk entri utamanya
terletak pada pengarang atau judul yang pertama kali disebut pada halaman
judul.
6)
Suatu
karya editor yang dijilid maka tajuk entri utamanya terletak pada judul
kolektif,apabila tidak ada judul yang kolektif maka tajuk entri utamanya
terletak pada pengarang atau judul yang pertama kali disebutkan pada halaman
judul jilid pertaama.
7)
Suatu
karya editor yang dijilid maka tajuk entri utamanya terletak pada judul
kolektif,apabila tidak ada judul yang kolektif maka tajuk entri utamanya
terletak pada pengarang atau judul yang pertama kali disebutkan pada halaman
judul jilid pertama.
8)
Suatu
karya yang merupakan terjemahan dari bahasa lain,tajuk entri utamanya terletak
pada pengarang aslinya.tetapi apabila disalin seperti diringkas, paraphrase,
didramatisasikan,maka tajuk entri utamanya terletak pada penyadur atau
pengubahnya.
9)
suatu
karya yang merupakan laporan dari seorang pejabat suatu badan korporasi dan
isinya merupakan laporan kegiatan badan tersebut,maka tajuk entri utamanya
terletak pada badan korporasi yang bersangkutan.
BAB X SISTEM TEMU
KEMBALI INFORMASI
A.
Pengertian
sistem temu kembali informasi
Sistem temu kembali informasi berasal
dari kata Information Retrieval System (IRS). Temu kembali informasi adalah sebuah
media layanan bagi pengguna untuk memperoleh informasi atau sumber informasi yang
dibutuhkan oleh pengguna. Sistem temu kembali informasi merupakan sistem informasi
yang berfungsi untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemakai.
Sistem temu kembali informasi berfungsi sebagai perantara kebutuhan informasi pengguna
dengan sumber informasi yang tersedia. Pengertian yang sama mengenai sistem temu
kembali informasi menurut Sulistyo-Basuki (1992: 132) sistem temu kembali informasi
adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai
sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai.
Maka dapat disimpulkan bahwa sistem temu
kembali informasi merupakan sebuah sistem yang berguna dalam memanggil dan menempatkan
dokumen dari/dalam basis data sesuai dengan permintaan pengguna. Sistem temu kembali
informasi memiliki tujuan akhir, yaitu memberikan kepuasan informasi bagi pengguna
sistem. Jadi, temu kembali informasi merujuk pada keseluruhan kegiatan yang meliputi
pembuatan wakil informasi (representation), penyimpanan (storage), pengaturan (organization)
sampai kepada pengambilan (access).
B.
Tujuan
dan Fungsi Sistem Temu Kembali Informasi
Tujuan utama sistem temu kembali informasi
adalah untuk menemukan dokumen yang sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna secara
efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kepuasan baginya, dan sasaran akhir
dari sistem temu kembali informasi adalah kepuasan pemakai. Sistem Temu Kembali
Informasi bertujuan untuk menjembatani kebutuhan informasi pengguna dengan sumber
informasi yang tersedia dalam situasi seperti dikemukakan oleh Belkin (1980) sebagai
berikut:
1)
Penulis
mempresentasikan sekumpulan ide dalam sebuah dokumen menggunakan sekumpulan konsep.
2)
Terdapat
beberapa pengguna yang memerlukan ide yang dikemukakan oleh penulis tersebut, tapi
mereka tidak dapat mengidentifikasikan dan menemukannya dengan baik.
3)
Sistem
temu kembali informasi bertujuan untuk mempertemukan ide yang dikemukakan oleh penulis
dalam dokumen dengan kebutuhan informasi pengguna yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
(query).
Adapun fungsi utama Sistem Temu Kembali
Informasi seperti dikemukakan oleh Lancaster (1979) dan Kent (1971) adalah sebagai
berikut:
a.
Mengidentifikasi
sumber informasi yang relevan dengan minat masyarakat pengguna yang ditargetkan.
b.
Menganalisis
isi sumber informasi (dokumen)
c.
Merepresentasikan
isi sumber informasi dengan cara tertentu yang memungkinkan untuk dipertemukan dengan
pertanyaan (query) pengguna.
d.
Merepresentasikan
pertanyaan (query) pengguna dengan cara tertentu yang memungkinkan untuk dipertemukan
sumber informasi yang terdapat dalam basis data.
e.
Mempertemukan
pernyataan pencarian dengan data yang tersimpan dalam basis data. .
f.
Menemu-kembalikan
informasi yang relevan.
g.
Menyempurnakan
unjuk kerja sistem berdasarkan umpan balik yang diberikan oleh pengguna.
C.
Komponen
Sistem Temu Kembali Informasi
Menurut Lancaster (1979) Sistem Temu
Kembali Informasi terdiri dari 6 (enam) subsistem, yaitu:
1.
Subsistem
dokumen
2.
Subsistem
pengindeksan
3.
Subsistem
kosa kata
4.
Subsistem
pencarian
5.
Subsistem
antarmuka pengguna-sistem
6.
Subsistem
penyesuaian.
Sementara itu Tague-Sutcliffe (1996) melihat Sistem Temu Kembali
Informasi sebagai suatu proses yang terdiri dari 6 (enam) komponen utama yaitu:
1.
Kumpulan
dokumen
2.
Pengindeksan
3.
Kebutuhan
informasi pemakai
4.
Strategi
pencarian
5.
Kumpulan
dokumen yang ditemukan
6.
Penilaian
relevansi
Bila diperhatikan dengan seksama, perbedaan komponen Sistem Temu
Kembalai Informasi menurut Lancaster (1979) dan menurut Tague-Sutcliffe (1996)
terletak pada penilaian relevansi, yaitu suatu tahap dalam temu kembali untuk
menentukan dokumen yang relevan dengan kebutuhan informasi pemakai.
D.
Tipe
Temu Balik
a)
Temu
balik dengan menggunakan katalog atau jajaran kartu bibliografis tradisional.
Biasanya menggunakan kriteria telusur tunggal atau kunci tunggal. Kriteria
telusur mencakup pengarang atau judul, jajaran
subjek , atau jajaran geografis.
b)
Temu
balik dengan menggunakan indeks atau katalog tercetak . Prosedurnya sama dengan
prosedur katalog jajaran kartu seperti di atas. Kecepatan temu balik tergantung
pada jumlah konsep prakoordinasi dalam indeks dan berapa banyak informasi yang
terdapat pada setiap entri dokumen. Biasanya cara temu balik seperti ini memakan waktu yang lama
dan melelahkan.
c)
Temu
balik dengan indeks leksikal atau tipe uniterm. Temu balik ini memerlukan waktu
lebih sedikit dan setiap deskriptif memiliki kartu. Pada kartu tersebut
dicantumkan nomor dokumen yang memuat subjek/deskriptor. Nomor tersebut mengacu
pada jajaran bibliografis yang berisi semua informasi yang diperlukan untuk
temu balik dokumen.
d)
Temu
balik dengan cara jajaran kecocokan optik atau peek-a-boo. Prinsipnya sama dengan
Uniterm. Hanya saja nomor dokumen tidak ditulis pada kertas melainkan ditebuk
(punched) pada kartu. Penebukan dilakukan pada koordinat nomor. Untuk temu
balik digunakan alat ugahari seperti jarum, paku, atau lebih canggih
menggunakan cahaya. Bila paku atau cahaya itu tembus pada nomor yang sama,
berarti deskriptor dokumen tersebut relevan dengan pertanyaan. Jenis temu balik
ini mudah dan cepat.
e)
Temu
balik dengan kartu berlubang tepi (edge- notched cards). Temu balik ini
menggunakan kartu yang diberi lubang di bagian tepi. Setiap lubang menandai 1 deskriptor
yang diambil dari tesaurus. Bila cocok, kartu tersebut diberi lubang. Pemilahan
kartu dilakukan secara manual atau dengan gawai mekanis. Pemilahan biasanya
dimulai dari deskriptor paling lazim, terbatas sekitar 150 kartu. Pemilahan kartu
makan waktu lebih lama daripada sistem peek-a-boo. Keunggulannya ialah kartu
tidak perlu disusun, setiap kartu berisi elemen data utama mengenai dokumen.
E.
Tahap-tahap
dalam Temu Balik Informasi
Tahap-tahap dalam temu balik informasi ialah:
1)
Pemakai
memerlukan informasi dan mengungkapkan keinginannya yang me nyangkut subjek,
waktu yang diperlukan, jenis dokumen, informasi yang di inginkan, dalam bentuk
apa, dalam bahasa apa, dan sebagainya.
2)
Pemakai
memutuskan sumber yang akan digunakan.
3)
Komunikasi
pertanyaan. Bilamana perlu, pemakai mendiskusikan informasi yang diperlukannya
dengan informan untuk menjelaskan semua aspek.
4)
Pertanyaan
tersebut dirumuskan dalam bahasa dokumen bagi masing-masing sumber, menentukan
strategi telusur paling tepat, dan formula telusur (susunan, kombinasi
deskriptor) dalam kaitannya dengan susunan setiap sumber sekunder
5)
Subsistem
temu balik informasi diperiksa untuk mencari rujukan (pemeriksaan jajaran). Bilamana
perlu, strategi telusur disesuaikan dengan hasil penelu- suran sementara.
6)
Cantuman
bibliografis dan mungkin pula dokumen primer yang dirujuk kini disusun dan
dikumpulkan
7)
Skrining
artinya pemilihan rujukan yang paling berkaitan dengan permintaan dan subjek
utama atau karakteristik sekunder (tahun, bahasa, jenis dokumen, asal usul
dokumen, dan sebagainya).
8)
Pemakai
kemudian diberitahu hasil telusur
9)
Pemakai memeriksa kesahihan jawaban. Bilamana
perlu dirumuskan formula telusur baru
10)
Pemakai
menerima dokumen primer yang telah dipilahnya.
11)
Pemakai mengekstrak informasi dari dokumen
primer
12)
Pemakai
menilai relevansi jawaban, mengkaji efisiensi jasa yang diterimanya
13)
Unit
informasi menyediakan cantuman akhir dan pendapa dan mengkomunikasikan
pendapatnya pada unit'informasi pemakai mengenai jasa unit informasi.
Terimakasih banyak sudah membantu Saya....
BalasHapusMaterinya lengkap dan mudah dipahami